
MAHASISWA JADI SAKSI BISU TERJANGAN AIR HUJAN
-Kartika Prameswari arl’24
Berdasarkan sumber data yang diambil dari kompas.com, curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah Jati Agung, Lampung Selatan sejak siang menuju sore hari, 6 Maret 2026. Dari Jl. Kaswari, terlihat jelas bagaimana derasnya air berwarna coklat menerjang jembatan yang melintasi Jl. Kaswari karena volume air yang meluap dari sungai yang tidak mampu lagi terserap pada drainase yang ada. Akibat dari luapan air tersebut, sepanjang Jl. Kaswari dan sekitarnya lumpuh total karena air yang merendam setinggi betis orang dewasa sehingga kendaraan pun tidak dapat melintasi jalan tersebut.
— Kronologi 1
Hujan dimulai pada pukul 14.14 WIB dengan intensitas yang sedang dan langit yang gelap mengguyur daerah Kampus ITERA dan daerah sekitarnya seperti Jl. Kaswari, Jl. Senopati Raya, Jl. Lapas Raya, dan area area sekitarnya yang mencangkup Way Huwi dan Kota Baru, Lampung Selatan.
— Kronologi 2
Pada pukul 14.27 WIB hujan berlanjut mengguyur area area tersebut dengan intensitas yang lebih tinggi disertakan dengan angin kencang dan gemuruh petir.
— Kronologi 3
Hujan deras konsisten mengguyur selama 3 jam yang menyebabkan banjir tergenang di banyak titik, seperti Exit Tol KotaBaru, Jl. Ryacudu, Jl. Lapas Raya, Jl. Senopati Raya, dan titik lainnya.
Dari pengamatan di lapangan, meluapnya air dipicu oleh ketidakmampuan daya tampung drainase dalam mengimbangi debit air hujan yang tinggi secara langsung dan mendadak. Hujan deras yang berlangsung sekitar 3–4 jam membuat volume air tinggi drastis dan sistem drainase yang kurang memadai berdampak luapan air hujan yang sudah bercampur dengan pasir atau tanah menjadi berwarna coklat dan meluap ke berbagai daerah. Rumah warga dan kost-kost mahasiswa ikut terdampak oleh derasnya aliran banjir. Tak tanggung-tanggung beberapa tembok atau beton lainnya ikut runtuh akibat besarnya dan derasnya aliran air yang menerjang daerah tersebut.
Jika terus menerus mengabaikan daya dukung tata kelola lingkungan, Lampung Selatan akan terjebak dalam siklus bencana yang permanen khususnya bencana banjir. Beton yang mendominasi, menutup pori-pori tanah akan membuat volume air menjadi lebih tinggi dan akan sulit dikendalikan saat hujan deras kembali mengguyur daerah tersebut. Dampak seriusnya bukan lagi tentang luapan air, tetapi akan menyebabkan penurunan produktivitas khususnya bagi mahasiswa, lumpuhnya mobilisasi dan ekonomi sekitar, serta kerusakan infrastruktur jangka panjang, hingga ancaman keselamatan bagi masyarakat sekitar.
