Banjir Berulang di Bandar Lampung: Apa Hubungannya dengan Tata Ruang Kota?

Sumber gambar: https://regional.kompas.com/read/2025/01/18/145259678/6-kabupaten-kota-di-provinsi-lampung-terendam-banjir-bandar-lampung

oleh Marsya Khairunnisa, Arsitektur Lanskap 22

Disunting 28 Maret 2025

Salah satu fenomena yang sering terjadi di Kota Bandar Lampung dari dahulu hingga saat ini adalah Banjir. Banjir merupakan peristiwa terendamnya suatu wilayah oleh air yang sudah tidak bisa terbendung dan meluap secara berlebih. Faktor terjadinya banjir di Kota Bandar Lampung umumnya diakibatkan oleh faktor geografis Kota Bandar Lampung yang merupakan daerah dataran rendah dan juga daerah yang dilalui oleh beberapa DAS. Namun akhir-akhir ini, banjir yang terjadi berulang kali di Bandar Lampung menunjukkan hubungan erat dengan kesalahan tata ruang kota dan lemahnya implementasi kebijakan lingkungan.  Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga oleh berbagai faktor struktural yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan dan tata kelola lingkungan yang buruk. 

 

Data bencana banjir di Bandar Lampung selama periode 2010 – 2025

Dalam sepuluh tahun terakhir (2010-2019), Kota Bandar Lampung mengalami 26 bencana, di mana 14 di antaranya adalah banjir. Tingkat risiko banjir di kota ini berbeda-beda, mulai dari rendah hingga tinggi, tergantung pada lokasi dan kondisi lingkungan sekitar. 

April 4, 2024: Banjir terjadi di Kecamatan Rajabasa dengan ketinggian air 80-100 cm, merendam ratusan rumah tanpa laporan korban jiwa.

April 12, 2024: Banjir melanda dua kecamatan yaitu Teluk Betung Selatan dan Teluk Betung Barat dengan ketinggian air 50-100 cm. Tidak ada korban jiwa dilaporkan. 

Januari dan Februari 2025: Banjir terparah dengan ribuan rumah terendam banjir akibat curah hujan ekstrim selama delapan jam. Walhi Lampung mencatat 23 titik banjir dengan lokasi terparah yaitu di Tanjung Senang, Kali Balau, dan Sepang Jaya. 

 

Faktor Tata Ruang yang Memicu Banjir

Alih fungsi lahan menjadi penyebab utama berkurangnya daerah resapan air. Pembangunan permukiman dan komersial di wilayah rawan banjir meningkat sebanyak 15% selama 5 tahun terakhir. Selain itu, sistem drainase yang tidak memadai, sementara ruang terbuka hijau (RTH) hanya mencakup 4,5% dari total wilayah kota, jauh di bawah standar UU No. 26/2007 (30%). Dampak dari menurunnya RTH Kota Bandar Lampung menyebabkan kurangnya resapan air yang memperburuk situasi tersebut. 

Dalam hal ini, pihak Pemerintah Kota Bandar Lampung melakukan upaya mitigasi bencana untuk meminimalisir resiko dari banjir dan meningkatkan kesiapsiagaan warga. Dari hasil rapat evaluasi, Pemkot Bandar Lampung menetapkan beberapa langkah untuk menangani hal tersebut, diantaranya ialah bekerja sama lintas wilayah antar kabupaten, seperti Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan untuk mengembalikan fungsi kawasan yang mengalami degradasi lingkungan. Tak hanya itu, Pemkot Bandar Lampung pun mengupayakan untuk menerapkan beberapa hal seperti drainase berbasis alam atau yang dikenal dengan nature based solutions dengan cara restorasi daerah aliran sungai dan juga dengan membangun drainase adaptif terhadap iklim seperti pembangunan kolam retensi (embung) dan sumur resapan. Rencana untuk peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH), penanaman pohon kembali serta pemasangan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi akan dilakukan dalam langkah mitigasi banjir kedepannya. Partisipasi masyarakat pun diharapkan oleh Pemkot Bandar Lampung, oleh karena itu pemberian edukasi dilakukan guna meningkatkan keterlibatan masyarakat yang nantinya diharapkan bukan hanya pihak pemerintah saja yang melakukan upaya untuk meminimalisir banjir, tetapi dari segenap elemen masyarakat ikut membantu dalam menangani hal ini.

Banjir berulang di Bandar Lampung mencerminkan tantangan serius dalam pengelolaan tata ruang kota. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta merencanakan tata ruang yang lebih baik.

 

Sumber:

Pusat Krisis Kesehatan. (2024, 12 April). Informasi Awal Banjir di 2 Kecamatan, KOTA-BANDAR-LAMPUNG, LAMPUNG | 12-04-2024. Diakses dari https://pusatkrisis.kemkes.go.id/Banjir-di-KOTA-BANDAR-LAMPUNG-LAMPUNG-12-04-2024-6

Kupastuntas.co. (2025, Februari 23). Banjir Berulang di Bandar Lampung, WALHI: Bukti Gagalnya Pengelolaan Lingkungan. Diakses dari https://www.kupastuntas.co/2025/02/23/banjir-berulang-di-bandar-lampung-walhi-bukti-gagalnya-pengelolaan-lingkungan

Antaranews. (2024, 27 Februari). WALHI Lampung minta kualitas RTH Bandarlampung ditingkatkan. Antara News. Diakses dari https://m.antaranews.com/amp/berita/3981870/walhi-lampung-minta-kualitas-rth-bandarlampung-ditingkatkan

Agustri, M. P., & Asbi, A. M. (2020). Tingkat risiko bencana banjir di Kota Bandar Lampung dan upaya pengurangannya berbasis penataan ruang. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, 11(1).

Eva. (2025, February). Banjir Berulang di Bandar Lampung, Bukti Gagalnya Pengelolaan Lingkungan, Akankah Kepemimpinan Baru Berkomitmen ? www.saibumi.com. Retrieved March 26, 2025, from https://www.saibumi.com/artikel-131793-banjir-berulang-di-bandar-lampung-bukti-gagalnya-pengelolaan-lingkungan-akankah-kepemimpinan-baru-berkomitmen-.html

Febriani, E. (2025, February 28). Atasi Banjir Berulang, Ini Upaya yang Akan Dilakukan Pemkot Bandar Lampung. Kumparan. https://kumparan.com/lampunggeh/atasi-banjir-berulang-ini-upaya-yang-akan-dilakukan-pemkot-bandar-lampung-24aXub2HCga/full

Oktavia, V. (2025, February 26). Persoalan Banjir dan Proyek Jembatan Siger Milenial yang Menuai Kritik. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/banjir-yang-menghantui-bandar-lampung

https://lampung.suara.com/read/2025/02/22/185015/23-titik-di-bandar-lampung-terendam-banjir-3-orang-meninggal